George Susanto - Colnago Dream Lux Pista

 


Nama George Susanto mungkin udah enggak asing di kuping lo, apalagi kalo algoritma TikTok lo seputar fixie. George, atau akrab dipanggil Jorji, sering berbagi pengalaman dan pengetahuan soal dunia fixie melalui konten dan live TikTok-nya (@george_sw_).  Dia memiliki beberapa sepeda yang sering digowes dan dijadikan dekorasi saat live. Salah satu sepeda yang mencuri perhatian gue adalah Colnago Dream Lux ini.

Colnago ini gue pilih karena sangat merepresentasikan keagresifan era 90-an akhir sampai 2000-an, tetapi masih relevan sampai 20 tahun kemudian. 


 

 

Sebelumnya, Jorji mencari Bianchi Pista Concept. Karena frame itu sangat susah didapat, ia ditawarkan frame Colnago ini. Awalnya ia dipinjamkan Colnago Reflex milik temannya untuk memberikan 'gambaran' soal riding feel dari 5-rib clover shape Columbus Airplane. Dia pun terkesan dengan stiffness dari frame itu. Rasa terkesan itu enggak berhenti pada aspek material yang digunakan. Geometri pursuit dan paint job meriah namun menawan khas 90-an menjadi alasan kuat lainnya untuk Jorji membeli frame ini. 

Passionnya terhadap sepeda Italia enggak cuma dari Colnago dan Bianchi. Jorji juga suka dengan Cinelli. Untungnya, Integralter ini bisa jadi pemuasnya untuk menggabungkan kesukaannya terhadap merek Italia tersebut. Alasan ia jatuh cinta dengan Integralter adalah Integrated Handlebar ini memiliki desain yang agresif : las-lasan dengan garis tegas dan siluet menyerupai sayap pesawat terbang. Membuat sepeda memiliki looks yang lebih intimidatif.



 


Selanjutnya, ke bagian seatset. Jorji memilih Selle Italia SLR Team Edition dengan berat 130 gram. Sadel ini membuat bobot keseluruhan Dream Lux menjadi 6,78 kg, cukup mengompensasi bobot Integralter yang cukup berat. Selain itu, SLR Team Edition memiliki stack height yang cukup rendah, yang membuat seatpost lebih tinggi. Kalau alasan kenapa pilih seatpost ini, jawaban darinya : "Simply, karena ini Campy Record Carbon."





Ngomong-ngomong soal bobot, crankset Campagnolo Record Pista juga memiliki peran penting menurut Jorji. Lebih dari itu, crankset ini juga menggunakan bottom bracket dari groupset yang sama serta rantai HKK Vertex untuk memberikan smoothness saat pedaling. Di belakang, ia menggunakan Cog 17T dari Sugino. Cog ini  menggunakan sistem cluster, mirip dengan splined cog dari Miche. Jorji, enggak suka gonta-ganti rasio, cuma memudahkan penggantian just-in-case. Semua komponen drivetrain digerakkan melalui pedal XTR yang memiliki smoothness baik saat clip-in/clip-out maupun saat melakukan pedaling.






Masuk ke bagian kaki-kaki, Jorji memilih wheelset Zipp 404 clincher yang sudah di-convert dengan hub track dari Two Wheels Enterprises dan wheelset Zipp 303 tubular di bagian depan. Konfigurasi beda profil depan dan belakang dipilih karena terinspirasi dari wheelset modern yang memiliki tinggi profil berbeda di depan dan di belakang. Hal ini membuat bagian belakang mampu memanfaatkan headwind dan sidewind, sedangkan bagian depan mampu menahan sidewind.


 
 
 

 

Mungkin segitu aja bike check dari Colnago milik Jorji ini, semoga di lain waktu gue bisa bike check sepeda-sepedanya yang lain. Kalau ada pertanyaan lainnya, silakan tanyakan ke Jorji pas dia ngelive.


Mean Lookin' Track Machine






Comments