Sepeda terakhir dari member NCC yang akan gue bike check. Sepeda ini milik Arnelio, anggota Not Common Cyclist yang paling into ke fotografi. Gue enggak tahu apakah kebetulan atau enggak, tapi nama histogram diambil dari tools di dunia fotografi. Histogram sendiri digunakan sebagai acuan gelap-terang sebuah foto. Indikator ini membantu fotografer/editor untuk dapat 'membaca' foto secara objektif.
Sekarang, balik ke Frame, Cinellio (panggilan sayang Arnel) didatangkan dari Surabaya. Frame ini pada awalnya digunakan untuk criterium oleh Gotong Royong Cycling Club. Saat mengakuisisi, dia sempat izin kepada pemilik sebelumnya untuk mengonversi Cinelli Mash Histo menjadi sepeda genit. Cinellio menggantikan Mosso SF705 sebagai tunggangan rekreasional Arnel. Menurutnya, Cimash Histo lebih agresif dari segi geometri karena sedikit pursuit, lebih "minta" untuk ditambah tenaga terus-terusan, tetapi Mosso SF705 jauh lebih nyaman.
Hal yang gue suka dari Cinellio adalah setup-nya yang minimalis. Komponen mayoritas hitam yang diberikan sedikit sentuhan silver/chrome/polish, ngebuat lebih "nyala". Di ukuran frame 51, Arnel menggunakan seatpost non-setback milik Thomson dan stem 100 mm 17 derajat produksi Uno. Berkat 2 komponen ini, frame agresif jadi lebih sesuai dengan badannya, meskipun perlu beberapa kali penyesuaian di badan.
Di kokpit, terpasang rise bar Crankbrothers Cobalt 3 dengan warna gunmetal dan handgrip Oury. Cobalt 3 yang uncut memang kelebaran, tetapi somehow cukup buat Arnel, apalagi backsweep-nya bikin reach sedikit mundur, membuat lebih nyantai. Pengalaman unik menurut gue ada di handgrip oury. Ulasan Arnel, oury ini lengket, tapi kalo udah diusap ke apa pun itu, lengketnya ilang. Sebuah teknologi dari Oury. Untuk bagian saddle, Selle Italia SL masih cukup nyaman menurutnya. Durasi Arnel on saddle biasanya sekitar 5–6 jam, tanpa BIB.
Masuk ke bagian kaki-kaki. WS belakang menggunakan Phil 32 hole disimpulkan ke H+Son Formation Face, dibalut karet Goodyear Eagle 700x25. Sedangkan di depan, DT Swiss dipadukan dengan rims karbon 50mm dipasangkan ban Conti Ultra 25c. Selain menambahkan #fixiepoints , konfigurasi belang ini juga bertujuan. WS belakang untuk meng-handle tenaga dan beban, serta rims alloy memberikan efek 'flex'; di bagian depan, rims karbon dan ws 20 hole untuk memberikan handling yang lebih responsif karena ringan.
Gue sempet nanya ke Arnel, kenapa pilih setup gelap? Kata dia, karena referensi dia bangun fixie dari 2013-an, warnanya begini. Beberapa bilang color palette kayak gini itu mati. Menurut gue ga penting sih, karena selain my bike, my rules, warna seperti ini udah jadi idaman Arnel sejak lama dan itu cukup sentimental buat dia.
Kalau matinya color palette cukup subjektif, kematian yang objektif ada di drivetrain. Rasio dengan 1 skid patch ini sering dihindari karena membuat ban lebih mudah gundul. Mengantisipasinya, Arnel mengurangi penggunaan long skid. Death Ratio didapatkan karena keadaan, bukan keinginan. Saat hunting komponen yang ia idam-idamkan, yaitu Sugino Zen, hanya tersedia ukuran 51T. Dilemma secondhand market, ada uang barangnya enggak ada, barangnya ada uangnya enggak ada. Terakhir, untuk menutup #fixiepoints, toe clip dipilih untuk foot retention karena sepeda ini Arnel sering gunakan untuk nongkrong.
Akhir kata, terima kasih buat kawan-kawan Not Common Cyclist yang beberapa waktu lalu udah menjamu gue dengan ramah tamah di Bekasi. Semoga makin solid ke depannya, semoga konsisten di skena dua pedal untuk dua roda, dan terakhir, semoga makin banyak gebrakan-gebrakan yang dibuat. Btw, enggak menutup kemungkinan kalau bakal ada salah satu dari mereka yang masuk ke sini lagi. Jangan tanya kapan, tapi ya. Hehe 99x






















Comments
Post a Comment