Kalo lo lagi kepikiran untuk bangun road bike dengan sistem pengereman rim brake mungkin frame keluaran dari Trek bisa masuk dalam radar lo. Sama seperti pesaingnya Cannondale dan Specialized yang memiliki varian material karbon dan aluminum. Pada material aluminum Trek memiliki Domane, sedangkan untuk Karbon ada Madone dan Emonda.
Perbedaan dari Madone dan Emonda adalah, Trek Madone didesain untuk sepeda All-rounder dengan material karbon dan optimasi aerodinamik pada bagian tubing-nya. Lalu pada tahun 2014, Emonda diciptakan dengan fokus sepeda climbing yang lightweight. Setelah itu, pada generasi ke 5 Trek Madone berpindah haluan menjadi sepeda Aero. Mengutip dari web resmi Trek , hal ini dilakukan supaya mereka lebih fokus ke desain sepeda yang lebih aero pada Madone dan Emonda untuk all-rounder-climbing-lightweight.
Kali ini, gue mau mengulas Trek Madone miliki Rizal. Sepeda ini adalah Trek Madone Gen 3 6.5. Perbedaan dari Gen 3 (2009-2011) dengan gen 2 (2007-2008) adalah, desain pada Generasi ke-2 lebih aerodinamis, tetapi secara bobot Trek mengklaim Generasi 3 lebih ringan dan less aero. Sedangkan di Generasi ke-4 (2012-2014) Madone kembali dengan desain aerodinamis dengan mounting rem direct mount. Di Generasi ke-3 ini geometri yang dimiliki Madone masih mengusung aliran All-rounder, sebelum Madone berubah haluan menjadi frame aero pada Generasi ke-5 (2015-2017). Salah satu alasan ia membeli Trek karena ia terinspirasi oleh Lance Armstrong, figur yang menemani era pertumbuhan Rizal.
Sepeda ini udah Rizal gunakan untuk looping, touring, dan Audax 200 km Jogjakarta. Pada Audax 200, rute yang ia lewati adalah all terrain, dan sanggup finish di bawah COT. Selain untuk latihan, sepeda ini juga ia gunakan untuk gowes ke kantor, bahkan ke dua kantor yang berbeda. "Untuk tahun segitu, geometri frame ini masih relevan sampai hari ini. Gak enaknya agak limbung di speed 40+," ucap Rizal.
Untuk melengkapi frameset yang sudah memiliki integrated seatmast with setback, Rizal mengkombinasikan stem Zipp Sprint SL berukuran 110mm, 8derajat, dan dropbar Zipp Service Course dengan lebar 420mm. Kombinasi Frameset, Seatset, dan Seatset ini menurut Rizal lebih agresif dari segi look dan ergonomi, tetapi kurang nyaman karena Madone ini memiliki size 60.
Masuk ke grupset, Rizal mengkombinasikan Groupset Ultegra dan 105. Brifter 105 R7000 digunakan untuk mengoper RD dan FD 105 R7000 dan menarik kaliper dari Ultegra R6700. Sedangkan untuk Crankset Rizal menggunakan Ultegra R8100 dengan panjang 170mm dengan Chainring 50/34. Kalo lo bertanya "emang bisa crank 12 speed dipake di grupset 11 speed" Jawabannya bisa. Untuk rasionya, Rizal memakai chainring 50/34 di depan dan sprocket 11-34 di belakang. Menurutnya Rasio ini masih belum pas dengan kebutuhannya, karena sekarang ia lebih suka nanjak Syahdu.
Ngomong-ngomong soal nanjak syahdu, sudah dipastikan turunan terjal datang sepaket. Salah satu trik Rizal untuk menaklukan turunan terjal, ia memilih wheelset Mavic Cosmic SLS dengan brakeline Alloy. WS ini juga lebih ngacir menurut Rizal, ia juga melihat WS ini digunakan di skena Time Trial. Performa oke, pengereman oke, walaupun menurut preferensi Rizal wheelset dengan carbon brakeline lebih estetik.
Memilih frame dengan sistem pengereman rim brake sebenernya masih relevan sampe hari ini. Selain itu sistem pengereman rim brake memiliki bobot yang lebih ringan, lebih murah, dan lebih mudah dilakukan maintenance. Jadi gimana? apakah frame dari Trek udah masuk ke Radar lo? atau masih mau cari referensi lain lagi?




























Comments
Post a Comment