![]() |
| Alien Track |
Mencari referensi sepeda di dunia maya adalah hal yang tepat saat lo mau bangun sepeda. Dengan melakukan hal tersebut, lo jadi kebayang kira-kira komponen apa aja yang lo perluin, ukuran tinggal menyesuaikan, dan warna? Enggak usah repot, karena udah tinggal ngelirik referensi yang lo mau. Hal itu yang jadi acuan Mas Eco waktu dia ngebangun Alien Track ini. Kalo lo penasaran soal frame Alien Track ini, lo bisa nonton video Eco sama Yakurss. Di video tersebut Eco udah ngejelasin soal frame ini secara gamblang, klik dimari .
Informasi dari Mas Eco: dia ngebeli frame ini karena iklannya lewat di #fnfjb. Waktu dia liat frame hijau ini, Eco langsung kepikiran sama konsep klasik dengan warna hijau-kuning yang dia liat di Instagram. Setelah mencari latar belakang dari frame ini, langsung ia gas kan untuk checkout frame Alien ini.
Memilih komponen warna kuning pada bagian contact point (ban, saddle, dan handgrip) mengomplementer Alien track hijau ini, sesuai dengan kemauan Eco. Ia menggunakan sadel Selle San Marco karena nyaman dengannya, walaupun warnanya udah luntur karena beliau sering gowes pakai celana denim. Untuk sebagian orang, sadel ini kurang nyaman; enggak berlaku buat Eco. Sedangkan untuk grip Strong V, ia memilihnya karena cukup masuk dengan konsep klasik. Walaupun keras dan durability-nya kurang bagus. Wajar aja, handgrip ini umumnya digunakan di lintasan keirin dengan sarung tangan. Untuk ban Kenda, saat itu cuma ban ini yang tersedia dalam warna kuning.
Di bagian finishing kit (stem, seatpost, & handlebar), ia menggunakan faktor estetika sebagai prioritas dalam memilih komponen. Nitto Jaguar yang sangat agresif dan menukik dipadukan dengan Shredbar uncut membuat posisi berkendara Eco enggak terlalu agresif dan membuat manuver serta handling lebih oke. Komposisi finishing kits ini dengan frame berukuran 53 membuat Eco menyesuaikan dengan sepedanya. Bukan sepeda yang menyesuaikan dengan badan, tetapi badan yang menyesuaikan dengan sepeda. Oke Co.
Sekarang, ke sub-assembly yang dibungkus kenda kuning berukuran 700x28: wheelset. Eco memadukan hub Dura-Ace 7600 dengan rim Araya Super Aero. Hub Dura-Ace milik Eco adalah DA 7600 tanpa cap NJS karena memiliki 32 lubang. Sedangkan versi NJS memiliki lubang 36. Menurut ulasan Eco, hub ini super loncer. Salah satu kelebihan dari bearing dengan sistem loose ball bearing adalah lebih loncer dan ringan saat digowes. Enggak heran, Shimano masih mempertahankan loose ball bearing sampai hari ini di produk-produk barunya.
Melengkapi hub yang loncer dengan rim Araya Super Aero yang ringan nan mengilap. Wheelset ini jadi favorit Mas Eco. Tinggi profil 30 mm tanpa brakeline memberikan tampilan track bike klasik. Tetapi rim ringan ini enggak terlalu kuat menahan terrain Kota Tangerang yang penuh lubang. Karena baru 1 tahun pemakaian, rim ini sudah penyok. Semoga nemu lagi co, Super Aero dalam keadaan near mint !
Masuk ke bagian drivetrain Eco menggunakan Sugino 75 dengan Chainring Intro7 yang disambungkan ke cog berukuran 15 oleh rantai Izumi Silver. Menghasilkan rasio 48-15, rasio yang menurut Eco kurang enak buat stop and go, tapi enak buat 'narik'. "Mau ganti mager gue, yaudah pake yang ada hahahaha," ucap Eco. Drivetrain ini diputar dengan pedalset dari VP. Foot retention dengan tipe Toeclip menjadi pilihan karena looks yang klasik. Toeclip ini juga memungkinkan Eco menggunakan semua Converse yang dia punya.
Dengan setup seperti ini, Eco udah menggunakan sepeda ini untuk Alleycat, bike to work, fondo, dan foto-foto dengan kawan-kawannya di Cyclistpose. Tapi yang paling penting, sepeda ini selalu muncul di instastory Abs&


























Comments
Post a Comment