Varian Tyan - Specialized Crux Elite 2012

 

Specialized Crux Elite

Cyclocross, salah satu genre sepeda yang paling jarang dilirik kebanyakan orang. Genre ini memiliki sepeda yang paling dicari oleh sebagian orang. Di era kelahirannya Cyclocross terlihat cukup menakutkan, karena pada saat itu pengereman dengan sistem disc masih belum ditemukan. Pengereman rim brake yang dirasa kurang pakem harus berpacu di lintasan tanah bahkan lumpur, ditambah jalur yang cukup teknikal dan tanjakan terjal. Selain sistem pengereman, ukuran ban yang hanya mentok di 700x33c atau 35c (karena regulasi UCI) juga membuat orang memalingkan pandangan ke sepeda MTB yang memiliki tire clearance lebih lebar.

Di era sekarang, Cyclocross juga kalah pamor dari sepeda Gravel. Ukuran ban yang tidak perlu mengacu aturan UCI, membuat manufaktur dapat memberikan tire clearance yang lebih besar. Enggak heran, kalo hari ini banyak orang yang memilih menggunakan ban luar MTB untuk sepeda Gravel nya.

Tetapi menurut gue, sepeda Cyclocross merupakan aliran paling pas untuk orang-orang yang butuh geometri agresif dengan ukuran ban lebih besar. Sepeda ini memiliki segitiga belakang (seat tube, chainstay, dan seat stay) lebih pendek dan head tube yang lebih tegak dari Sepeda Gravel pada umumnya. Hal itu membuat wheelbase lebih pendek sehingga menciptakan geometri yang lebih responsif. Meskipun hari ini banyak sepeda Gravel yang lebih agresif atau mirip dengan Cyclocross tetapi apakah tire clearance lebih dari 50c itu sesuatu yang 'nice to have' atau sia-sia?








Hal yang paling mencolok berikutnya dari cyclocross adalah top tube yang lebih rata air, karena sepeda ini memang didesain untuk digendong untuk melewati obstacle. Untuk sebagian orang, top tube yang lebih rata ini terlihat lebih keren dan lebih pas untuk diberikan frame bag. 

Mas Tyan, pemilik dari Crux rim brake ini, kurang puas dengan sepeda sebelumnya, yaitu Specialize Diverge. Menurutnya Diverge yang Sloopy kurang keren dan kurang efektif untuk jalan jauh, karena hanya bisa memanfaatkan bagian atas top tube untuk meletakkan frame bag. Saat mendapatkan Crux ini Mas Tyan juga melakukan riset terkait geometri untuk mendapatkan fittingan yang pas. Dalam melakukan riset nya ia menemukan bahwa frame ini memiliki geometri yang mirip dengan Specialized Allez miliknya yang sudah dialed. Hanya saja head tube Allez (72.5°) lebih tegak daripada head tube Crux (70.5°) dan head tube Crux lebih tinggi 2cm.

Mengetahui informasi tersebut, ia langsung menduplikat stack dan reach yang sama dari Alleznya. Pada sepeda ini #slamthatstem memiliki tujuan, bukan hanya untuk estetika semata. Dibagian Drop Bar ia memilih lebar yang cukup kecil, yaitu 340mm dan drop (CTC) 380mm. Meskipun menurut sebgaian orang ukuran seperti ini kurang enak digunakan di jalur yang berbatu dan teknikal, tetapi menurut ulasan Mas Tyan : "Aman kok".

 




Groupset shimano sora 9 percepatan menjadi pilihan Mas Tyan untuk tunggangan andalannya. Meskipun hanya 9 cog di belakang dan pengereman rim brake Mas Tyan mengganti beberapa komponen supaya Groupset ini mampu melahap jalur petualangan dengan terrain yang seringkali random. Pertama mengganti crankset Sora dengan Bombtrack Lyer dan Chainring direct mount dari Evosid berukuran 46-30. Crankset ini dipilih Mas Tyan karena memiliki spindle 30mm yang dimana sangat pas dengan bottom bracket bawaan dari frame ini yaitu BB30. Crank keluaran dari Bombtrack ini juga memiliki Q-Factor yang lebih lebar daripada crank Shimano Sora yang memang didedikasikan untuk Road dan mengejar Aero. Dengan demikian kaki yang lebih lebar pada saat berkendara, membuat Mas Tyan mampu melahap medan-medan yang cukup teknikal saat berpetualang.

Setelah menurunkan teeth dibagian depan untuk mengurangi rasio, Mas Tyan memilih sprocket 12-36 di bagian belakang supaya lebih sip lagi dipake nanjak. Sprocket ini memiliki rasio yang lebih rendah dibandingkan dengan rasio 11-36 milik Shimano juga. Sprocket 11-36 memiliki cog 11-13-15-17-20-23-26-30-36T sedangkan 12-36 memiliki cog 12-14-16-18-21-24-28-32-36T. "Gue lebih sering pake kombinasi 30-32 daripada 30-36, biar gak terlalu ngicik dan gue masih sisain gear yang lebih enteng buat tanjakan yang lebih terjal". Untuk mengakali RD Shimano Sora yang hanya mampu menampung cog 34T, Mas Tyan menggunakan Goat Link dari Nautilus.


 



Secara estetika, pemilihan rims karbon dengan profil 5mm adalah keputusan yang tepat dikala Aero Gravel menjadi tren saat ini. Apalagi brakeline dari wheelset Superteam ini memiliki material Alloy, tetap kencang dan ringan tapi pakem. Kunci dari supaya rem tetep pakem selain memilih brakeline Alloy, Mas Tian memilih menggunakan kampas rem keluaran dari Baradine. 

Terakhir dari sistem pengereman, supaya V-Brake dari Ace ini tetep pakem Mas Tyan menggunakan Litepro Travel Agent. Komponen ini digunakan supaya brake lever Sora yang Short Pull mampu menarik V-Brake yang Long Pull atau di desain untuk tuas rem sistem FlatbarMeskipun wheelset aero terkenal dengan stiffnes-nya ban berukuran 700x40c dari Innova Pro ini mampu meredam permukaan bebatuan atau gradakan di jalur petualangan Mas Tyan.

 
  

  


Dengan 'setelan' sepeda sedemikian rupa, sepeda ini sudah 'klik' dengan Mas Tyan. Ia menggantikan Specialized Allez dan Langster miliknya untuk wara-wiri sampai performa. Menurut Mas Tyan, dia bakalan lama pake sepeda ini sampe akhirnya dia nemu Specialized Crux dengan ukurannya. Maklum beliau adalah seorang "Spez People".




 


 

 



















Comments