Bascoro Yunanto - Bridgestone Eurasia

 

Bridgestone Eurasia

Beberapa dari temen gue nanya, gimana caranya buat masuk Metal and Rubber. Jawaban pastinya : engak ada. Ada yang menawarkan diri, ada yang ketemu di event, dan ada juga yang gue DM karena ngeliat sepedanya di Sosial Media. Salah satunya, Coro pemilik sepeda ini. Waktu itu beliau muncul ke algortima gue dengan topik sepeda itu sebagai sarana 'pelipur lara' dikala caruk maruk kehidupan membuat kewalahan. Setelah ketemu langsung di salah satu acara sepeda, gue ngajak kenalan dan ngajak dia untuk masuk ke blog ini.

Bridgestone Eurasia, sepeda milik Coro ini memiliki aliran Randonneur. Sebagian orang menyebut sepeda ini sebagai sepeda turing, karena design geometri yang dirancang untuk berjalan jauh dengan beberapa mounting untuk rak dan Fender. Selain geometri yang khas, sepeda ini juga dirancang dengan material yang cukup ringan dibandingkan MTB 26, untuk membuat sepeda ini lebih mudah dikayuh saat diberi beban berat.





Alasan Coro memilih sepeda ini, supaya dia bisa tetep keep up sama temen-temen Fixie nya di MNK . Setelah mendapat rekomendasi dari temen-temen di MNK soal Frame yang menggunakan diameter ban 700c ini, ia mulai membangun sepeda ini. Dikelilingi oleh anak-anak fixie juga mempengaruhi Coro dalam memilih Foot Retention. Sistem Toeclip ia pilih karena masih bisa pake sneakers dan bikin kaki tetep di pedal. "Ketika lo ngopi, lo bisa 'ceplak-ceplok pas jalan. Dan gue belom siap buat itu".

Sebagai orang yang memilih topik Tugas Akhir soal otomotif terutama budaya Chopper, Coro memilih menggunakan Friction Shifter karena mengingatkannya pada Suicide Shifter di motor Harley Davidson. Bentuk shifter yang kurang umum ini juga menjadi pembuka obrolan. Percepatan 2x5 ini juga cukup untuk kebutuhannya, untuk touring, bike to work, dan bikin video sepeda yang te-o-pe-be-ge-te. Cek dimari buat lokit video beliau








Saat menggunakan sepedanya untuk merekam video, sebetulnya coro lebih memilih menggunakan risebar. Menurutnya tuas rem pada risebar lebih pake dibandingkan rem pada dropbar. Coro juga lebih suka estetika dari risebar, karena lebih simpel, clean, handling lebih enak. Tapi kalo ketemu tanjakan agak kurang nyaman. Dropbar lebih cocok untuk all rounder menurutnya, karena lebih punya banyak pegangan, apalagi untuk nanjak.





 




Di sektor kaki-kaki, Coro memilih menggunakan hub Shimano dengan rims teplek dari Araya untuk mengurangi bobot keseluruhan dari Sepedanya. Rims teplek ini juga enak untuk dipake saat angin lagi kenceng-kencengnya berhembus. Untuk karet melingkar, Coro memilih menggunakan ban Maxxis Pursuer berukuran 700x28C. Ukuran 700x28 ini cukup ringan dan pas untuk kebutuhannya melibas jalanan yang ia tempuh sehari-hari. Alasan Coro memilih ukuran ban ini dipadukan dengan wheelset teplek karena mampu memangkas bobot sepeda ini yang tergolong berat menurutnya.



   

 

  



Terakhir di bagian saddle, Coro memilih saddle Brooks B17. Saddle paling nyaman karena ngayun pas dipake, dan sadel ini looks nya masuk dengan aliran Randonneur yang Vintage ini.





 





Comments